Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/riwayat-hidup-buddha-gotama-bab-iii-pemutaran-roda-dhamma/
Setelah tiba di Benares, kelima orang pertapa melihat Sang Buddha
sedang memasuki Taman Rusa. Seorang dari lima pertapa itu mengatakan,
“Kawan-kawan, lihat, Pertapa Gotama sedang memasuki taman, ia adalah
orang yang senang dengan kenikmatan dunia. Ia tergelincir dari kehidupan
suci dan kembali ke kehidupan yang penuh kesenangan dan kenikmatan.
Sebaiknya kita tidak usah menyapanya. Lagipula kita jangan memberi
hormat kepadanya. Kita sebaiknya juga jangan menawarkan diri untuk
menyambut mangkuk dan jubahnya. Kita hanya menyediakan tikar untuk
tempat duduknya. Ia boleh menggunakannya kalau mau dan kalau tidak mau,
ia boleh berdiri saja. Siapakah yang mau mengurus seorang pertapa yang
telah gagal?”
Waktu Sang Buddha datang lebih dekat, mereka melihat bahwa ada sesuatu
yang berubah dan Sang Buddha tidak sama dengan Pertapa Gotama yang dulu
mereka kenal. Ia sekarang kelihatannya lebih mulia dan agung, yang belum
pernah mereka lihat sebelumnya. Meskipun mereka semula sudah sepakat
untuk tidak menghormat kepada Sang Buddha, namun sewaktu Sang Buddha
mendekat, mereka seolah-olah lupa kepada apa yang mereka sepakati.
Seorang diantara mereka maju ke depan dan dengan hormat menyambut
mangkuk dan jubah-Nya, sedangkan yang lain sibuk menyiapkan tempat duduk
dan yang lain lagi bergegas mengambil air untuk membasuh kaki Sang
Buddha.
Setelah mengambil tempat duduk, Sang Buddha lalu berkata “Dengarlah, oh
Pertapa. Aku telah menemukan jalan yang menuju ke keadaan terbebas dari
kematian. Akan kuberitahukan kepadamu. Akan kuajarkan. kepadamu. Kalau
engkau ingin mendengar, belajar, dan melatih diri seperti yang akan
kuajarkan dalam waktu singkat engkau pun dapat mengerti, bukan nanti
kelak kemudian hari, tetapi sekarang juga dalam kehidupan ini bahwa apa
yang kukatakan itu adalah benar. Engkau dapat menyelami sendiri keadaan
itu yang berada di atas hidup dan mati.”
Tentu saja kelima pertapa merasa heran sekali mendengar ucapan Sang
Buddha. Sebab mereka melihat sendiri Beliau berhenti berpuasa, mereka
melihat sendiri Beliau menghentikan semua usaha untuk menemukan
Penerangan Agung dan sekarang Beliau datang kepada mereka untuk
memberitahukan bahwa Beliau telah menemukan Penerangan Agung itu. Karena
itu mereka tidak percaya akan apa yang Sang Buddha katakan. Mereka
menjawab,
“Sahabat (avuso) Gotama, sewaktu kami masih berdiam bersama-sama Anda,
Anda telah berlatih dan menyiksa diri Anda seperti yang belum pernah
dilakukan oleh siapa pun juga di seluruh Jambudipa. Karena itulah kami
menganggap Anda sebagai pemimpin dan guru kami. Tetapi dengan segala
cara penyiksaan diri itu ternyata Anda tidak berhasil menemukan apa yang
Anda cari, yaitu Penerangan Agung. Setelah sekarang Anda kembali
kehidupan yang penuh kesenangan dan kenikmatan dan berhenti berusaha dan
melatih diri, mana mungkin Anda sekarang telah menemukannya?”
“Kamu keliru, Pertapa. Aku tidak pernah berhenti berusaha. Aku tidak
kembali ke kehidupan yang penuh kesenangan dan kenikmatan. Dengarlah apa
yang kukatakan. Aku sesungguhnya telah memperoleh Kebijaksanaan yang
Tertinggi. Dan dapat mengajar kamu untuk juga memperoleh Kebijaksanaan
tersebut untuk dirimu sendiri.”
Setelah itu kelima pertapa bersedia mendengarkan khotbah-Nya. Maka Sang
Buddha memberikan khotbah-Nya yang pertama yang kelak dikenal sebagai
Dhammacakkappavattana Sutta (Khotbah Pemutaran Roda Dhamma). Khotbah
pertama diucapkan oleh Sang Buddha tepat pada saat purnama sidhi di
bulan asalha.
Dhammacakkappavattana Sutta
Di bawah ini diuraikan singkatan dari khotbah tersebut.
“Dua pinggiran yang ekstrim, oh Bhikkhu, yang harus dihindari oleh
seorang bhikkhu. Pinggiran ekstrim pertama ialah mengumbar nafsu-nafsu
yang bersifat rendah, hanya dilakukan oleh orang yang masih berkeluarga,
sifat khas dari orang yang terikat kepada hal-hal duniawi, tidak mulia
dan tidak berfaedah.
Pinggiran ekstrim kedua ialah menyiksa diri, yang menimbulkan kesakitan
yang hebat, tidak mulia dan tidak berfaedah. Jalan Tengah dengan
menghindari kedua pinggiran yang ekstrim telah kuselami, sehingga
kuperoleh Pandangan Terang, Kebijaksanaan, Ketenangan, Pengetahuan
Tertinggi, Penerangan agung, dan Nibbana.
Selanjutnya oh Bhikkhu, inilah yang dinamakan Kesunyataan Mulia tentang
Dukkha: dilahirkan, usia tua, sakit, mati, sedih, ratap tangis, gelisah,
berhubungan dengan sesuatu yang tidak disukai, terpisah dari sesuatu
yang disukai dan tidak memperoleh sesuatu yang didambakan.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa Lima Khanda (Lima Kelompok Kehidupan/Kegemaran) itu adalah penderitaan.
Selanjutnya, oh Bhikkhu, inilah yang dinamakan Kesunyataan Mulia tentang
Asal Mula Dukkha: nafsu keinginan yang tidak habis-habisnya (tanha),
melekat kepada kenikmatan dan nafsu-nafsu yang minta diberi kepuasan,
keinginan untuk menikmati nafsu-nafsu indria, keinginan untuk hidup
terus-menerus secara abadi dan keinginan untuk memusnahkan diri.
Selanjutnya, oh Bhikkhu, inilah yang dinamakan Kesunyataan Mulia tentang
Lenyapnya Dukkha: nafsu-nafsu keinginan (tanha) yang secara menyeluruh
dapat disingkirkan, dilenyapkan, ditinggalkan, diatasi, dan dilepaskan.
Selanjutnya, oh Bhikkhu, inilah yang dinamakan Kesunyataan Mulia tentang
Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha: Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan
Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Daya upaya Benar, Perhatian
Benar dan Konsentrasi Benar.
Kemudian timbul dalam diri-Ku, oh Bhikkhu, Penglihatan, Pandangan,
Kebijaksanaan, Pengetahuan dan Penerangan bahwa ini adalah Kesunyataan
Mulia tentang dukkha yang harus dimengerti dan yang telah Kumengerti.
Kemudian timbul dalam diri-Ku, oh Bhikkhu, Penglihatan, Pandangan,
Kebijaksanaan, Pengetahuan dan Penerangan bahwa ini adalah Kesunyataan
Mulia tentang Asal Mula Dukkha yang harus dimengerti dan yang telah
Kumengerti.
Kemudian timbul dalam diri-Ku, oh Bhikkhu, Penglihatan, Pandangan,
Kebijaksanaan, Pengetahuan dan Penerangan bahwa ini adalah Kesunyataan
Mulia tentang Lenyapnya Dukkha yang harus dimengerti dan yang telah
Kumengerti.
Kemudian timbul dalam diri-Ku, oh Bhikkhu, Penglihatan, Pandangan,
Kebijaksanaan, Pengetahuan dan Penerangan bahwa ini adalah Kesunyataan
Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha yang harus dimengerti dan
yang telah Kumengerti.
Selama pandangan-Ku terhadap Kesunyataan Mulia yang disebut di atas
masih belum jelas benar mengenai tiga seginya dan dua belas jalannya,
Aku belum dapat menuntut dan menyatakan dengan pasti bahwa Aku telah
memperoleh Penerangan Agung yang tiada bandingnya di alam-alam para
dewa, mara, brahma, pertapa, brahmana dan manusia.
Dengan demikian timbul dalam diriKu Pandangan Terang dan Pengetahuan
bahwa Aku sekarang telah terbebas sama sekali dari keharusan untuk
terlahir kembali di dunia ini dan kehidupanKu yang sekarang ini
merupakan kehidupan-Ku yang terakhir.”
Setelah Sang Buddha selesai berkhotbah, Kondañña memperoleh Mata Dhamma
karena dapat mengerti (añña) dengan jelas makna khotbah tersebut dan
menjadi seorang Sotapanna (makhluk suci tingkat kesatu).
Añña Kondañña yang sekarang tidak meragu-ragukan lagi ajaran Sang Buddha
mohon untuk dapat diterima sebagai murid. Sang Buddha meluluskan
permohonan ini dan mentahbiskannya dengan kata-kata, “Mari (ehi)
bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan dengan jelas. Laksanakan kehidupan suci
dan singkirkanlah penderitaan.”
Dengan demikian Añña Kondañña menjadi bhikkhu pertama yang ditahbiskan dengan ucapan “ehi bhikkhu”.
Sejak hari itu Sang Buddha tinggal di Taman Rusa dan tiap hari Beliau
memberikan uraian Dhamma kepada lima orang pertapa tersebut.
Dua hari setelah itu, pertapa Vappa dan Bhaddiya memperoleh Mata Dhamma
dan kemudian ditahbiskan oleh Sang Buddha dengan menggunakan kalimat
“ehi bhikkhu”.
Dan dua hari kemudian, pertapa Mahanama dan Assaji memperoleh Mata
Dhamma dan ditahbiskan oleh Sang Buddha dengan menggunakan kalimat “ehi
bhikkhu”.
Lima hari setelah memberikan khotbah pertama, Sang Buddha memberikan khotbah kedua dengan judul Anattalakkhanasutta.
Anattalakkhanasutta
Singkatan dari khotbah ini adalah sebagai berikut:
Rupa (badan jasmani), oh Bhikkhu, Vedana (perasaan), Sañña (pencerapan),
Sankhara (pikiran) dan Viññana (kesadaran) adalah Lima Khandha (lima
kelompok kehidupan/kegemaran) yang semuanya tidak memiliki Atta (roh).
Kalau sekiranya Khandha itu memiliki Atta (roh), maka ia dapat berubah
sekehendak hatinya dan tidak akan menderita karena semua kehendak dan
keinginannya dapat dipenuhi, misalnya ‘Semoga Khandha-ku begini dan
bukan begitu.’
Tetapi karena Khandha itu Anatta (tanpa roh), maka ia tidak dapat
berubah sekehendak hatinya dan karena itu menderita sebab semua kehendak
dan keinginannya tidak dapat dipenuhi, misalnya ‘Semoga Khandha-ku
begini dan bukan begitu.’
Setelah mengajar kelima orang bhikkhu itu untuk menganalisa badan
jasmani dan batin menjadi lima khandha, Sang Buddha lalu menanyakan
pendapat mereka mengenai hal yang di bawah ini:
“Oh, Bhikkhu, bagaimana pendapatmu, apakah Khandha itu kekal atau tidak kekal?”
“Mereka tidak kekal, Bhante.”
“Di dalam sesuatu yang tidak kekal, apakah terdapat kebahagiaan atau penderitaan?”
“Di sana terdapat penderitaan, Bhante.”
“Mengenai sesuatu yang tidak kekal dan penderitaan, ditakdirkan untuk
musnah, apakah tepat kalau dikatakan bahwa itu adalah ‘milikku’, ‘aku’
dan ‘diriku’ ?”
“Tidak tepat, Bhante.”
Selanjutnya Sang Buddha mengajar untuk jangan melekat kepada lima khandha tersebut dengan melakukan perenungan sebagai berikut:
Karena kenyataannya memang demikian, oh Bhikkhu, maka lima khandha yang
lampau atau yang ada sekarang ini, kasar atau halus, menyenangkan atau
tidak menyenangkan, jauh atau dekat, harus diketahui sebagai Khandha
(Kelompok Kchidupan/Kegemaran) semata-mata.
Selanjutnya engkau harus melakukan perenungan dengan memakai
Kebijaksanaan bahwa semua itu bukanlah ‘milikmu’ atau ‘kamu’ atau
‘dirimu’.
Siswa Yang Ariya yang mendengar uraian ini, oh Bhikkhu, akan melihatnya
dari segi itu. Setelah melihat dengan jelas dari segi itu, ia akan
merasa jemu terhadap lima khandha tersebut. Setelah merasa jemu, ia akan
melepaskan nafsu-nafsu keinginan. Setelah melepaskan nafsu-nafsu
keinginan batinnya, ia tidak melekat lagi kepada sesuatu.
Karena tidak melekat lagi kepada sesuatu maka akan timbul Pandangan
Terang, sehingga ia mengetahui bahwa ia sudah terbebas. Siswa Yang Ariya
itu tahu bahwa ia sekarang sudah terbebas dari tumimbal lahir,
kehidupan suci telah dilaksanakan dan selesailah tugas yang harus
dikerjakan dan tidak ada sesuatu pun yang masih harus dikerjakan untuk
memperoleh Penerangan Agung.
Sewaktu kelima bhikkhu tersebut merenungkan khotbah Sang Buddha, mereka
semua dapat membersihkan diri mereka dari segala kekotoran batin (Asava)
dan terbebas seluruhnya dari kemelekatan (Upadana) dan mencapai tingkat
kesucian yang tertinggi, yaitu Arahat.
Yasa
Waktu itu di Benares, bertempat tinggal seorang anak muda bernama
Yasa. Yasa adalah anak seorang pedagang kaya raya dan sebagaimana juga
halnya dengan Pangeran Siddhattha, Yasa pun memiliki tiga buah istana
dan hidup dengan penuh kemewahan dikelilingi oleh gadis-gadis cantik
yang menyajikan berbagai macam hiburan. Kehidupan yang penuh kesenangan
ini berlangsung untuk beberapa lama sampai pada satu malam di musim
hujan, Yasa melihat satu pemandangan yang mengubah seluruh jalan
hidupnya.
Malam itu ia terbangun pada larut malam dan dari sinar lampu di
kamarnya, Yasa melihat pelayan-pelayannya sedang tidur dalam berbagai
macam sikap yang membuatnya jemu dan muak sekali. Ia merasa seperti
berada di tempat pekuburan dengan dikelilingi mayat-mayat yang
bergelimpangan. Karena tidak tahan lagi melihat keadaan itu, maka dengan
mengucapkan, “Alangkah menakutkan tempat ini! Alangkah mengerikan
tempat ini!” Yasa memakai sandalnya dan meninggalkan istananya dalam
keadaan pikiran kalut dan penuh kecemasan. Ia berjalan menuju ke Taman
Rusa di Isipatana. Waktu itu menjelang pagi hari dan Sang Buddha sedang
berjalan-jalan. Sewaktu berpapasan dengan Yasa, Sang Buddha menegur,
“Tempat ini tidak menakutkan. Tempat ini tidak mengerikan. Mari duduk di
sini, Aku akan mengajarmu.”
Mendengar sapaan Sang Buddha, Yasa berpikir, “Kalau begitu baik juga kalau tempat ini tidak menakutkan dan tidak mengerikan.”
Yasa membuka sandalnya, menghampiri Sang Buddha, memberi hormat dan kemudian duduk di sisi Sang Buddha.
Sang Buddha kemudian memberikan uraian yang disebut Anupubbikatha, yaitu
uraian mengenai pentingnya berdana, hidup bersusila, tumimbal lahir di
surga sebagai akibat dari perbuatan baik, buruknya mengumbar
nafsu-nafsu, dan manfaat melepaskan diri dari semua ikatan duniawi.
Selanjutnya Sang Buddha memberikan uraian tentang Empat Kesunyataan
Mulia yang dapat membebaskan manusia dari nafsu-nafsu keinginan. Setelah
Sang Buddha selesai memberikan uraian, Yasa memperoleh Mata Dhamma
sewaktu masih duduk di tempat itu. Yasa kemudian mencapai tingkat Arahat
sewaktu Sang Buddha mengulang uraian tersebut di hadapan ayahnya.
Keesokan hari seluruh penghuni istana Yasa menjadi ribut karena Yasa
tidak ada di kamarnya dan juga tidak diketemukan di bagian lain dari
istananya. Ayahnya memerintahkan pegawai-pegawainya untuk mencari ke
segenap penjuru dan ia sendiri pergi mencari ke Isipatana. Di Taman Rusa
ia melihat sandal anaknya. Tidak jauh dari tempat itu, ia bertemu
dengan Sang Buddha dan bertanya apakah Sang Buddha melihat Yasa. Yasa
sebenarnya sedang duduk di sisi Sang Buddha, tetapi karena Sang Buddha
menggunakan kekuatan gaib maka Yasa tidak melihat ayahnya dan ayahnya
tidak melihat Yasa. Sebelum menjawab pertanyaan ayah Yasa, terlebih dulu
Sang Buddha memberikan uraian tentang pentingnya berdana, hidup
bersusila, tumimbal lahir di surga sebagai akibat dari perbuatan baik,
buruknya mengumbar nafsu-nafsu, dan manfaat melepaskan diri dari semua
ikatan duniawi. Kemudian dilanjutkan dengan uraian tentang Empat
Kesunyataan Mulia yang dapat membebaskan manusia dari nafsu-nafsu
keinginan.
Setelah Sang Buddha selesai memberikan uraian, ayah Yasa memperoleh Mata
Dhamma dan mohon untuk diterima sebagai pengikut dengan mengucapkan,
“Aku berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Semoga Sang Bhagava
menerima aku sebagai upasaka mulai hari ini sampai akhir hidupku.”
Dengan demikian ayah Yasa menjadi upasaka pertama yang berlindung kepada
Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Seperti dijelaskan di halaman depan, Tapussa dan Bhallika adalah
pengikut Sang Buddha yang pertama, tetapi mereka berlindung hanya kepada
Buddha dan Dhamma karma pada waktu itu belum ada Sangha (Pesamuan Para
Bhikkhu, yang sekurang-kurangnya terdiri dari lima orang bhikkhu). Yasa
yang untuk kedua kalinya mendengarkan uraian Sang Buddha mencapai
tingkat kesucian yang tertinggi, yaitu Arahat.
Pada waktu itulah Sang Buddha menarik kembali kekuatan gaibnya, sehingga
Yasa dapat melihat ayahnya dan ayahnya dapat melihat Yasa.
Ayah Yasa menegur anaknya dan mendesak agar Yasa pulang kembali ke
istananya dengan mengatakan, “Yasa, ibumu sangat sedih. Ayolah pulang
demi menyelamatkan nyawa ibumu.”
Yasa menengok ke arah Sang Buddha dan Sang Buddha menjawab, “Kepala
keluarga yang baik, beberapa waktu berselang, Yasa memperoleh Mata
Dhamma sebagaimana juga Anda memperolehnya pada hari ini dan menjadi
seorang Ariya yang masih membutuhkan sesuatu yang lebih tinggi untuk
mencapai Pembebasan Sempurna. Hari ini Yasa berhasil menyingkirkan semua
kekotoran batin dan mencapai Pembebasan Sempurna. Cobalah pikir, apakah
mungkin Yasa kembali ke kehidupan biasa dan menikmati kesenangan
nafsu-nafsu indria?”
“Aku rasa memang tidak mungkin. Hal ini sudah menjadi rejekinya. Tetapi,
bolehkah saya mengundang Sang Bhagava supaya besok siang berkenan
mengambil dana (makanan) di rumahku disertai anakku sebagai bhikkhu
pengiring?”
Sang Buddha menerima undangan ini dengan membisu (berdiam diri).
Mengetahui permohonannya diterima, ayah Yasa berdiri, memberi hormat dan
berjalan memutar dengan Sang Buddha tetap di sisi kanannya dan kembali
pulang ke istananya. Setelah ayahnya pulang, Yasa mohon kepada Sang
Buddha untuk ditahbiskan menjadi bhikkhu. Sang Buddha mentahbiskannya
dengan menggunakan kalimat yang juga digunakan untuk mentahbiskan lima
murid-Nya yang pertama yaitu, “Ehi bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan
dengan jelas. Laksanakanlah kehidupan suci.” Perbedaannya bahwa Sang
Buddha tidak mengucapkan “dan singkirkanlah penderitaan” karena Yasa
pada waktu itu sudah mencapai tingkat Arahat. Dengan demikian, pada
waktu itu sudah ada tujuh orang Arahat (Sang Buddha sendiri juga seorang
Arahat, tetapi seorang Arahat istimewa karena mencapai Kebebasan dengan
daya upaya sendiri).
Keesokan harinya dengan diiringi Yasa, Sang Buddha pergi ke istana ayah
Yasa dan duduk di tempat yang telah disediakan. Ibu dan istri Yasa
keluar dan memberi hormat.
Sang Buddha kembali memberikan uraian tentang Anupubbikatha dan mereka
berdua pun rnemperoleh Mata Dhamma. Mereka memuji keindahan uraian
tersebut dan mohon dapat diterima sebagai Upasika dengan berlindung
kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha untuk seumur hidup.
Mereka adalah pengikut-pengikut wanita pertama yang berlindung kepada Tiga Mustika (Buddha, Dhamma, dan Sangha).
Setelah itu, makan siang disiapkan dan kedua wanita itu melayani sendiri
Sang Buddha dan Yasa dengan hidangan yang lezat-lezat. Sehabis makan
siang, Sang Buddha dan Yasa kembali ke Taman Rusa di Isipatana.
Di Benares, Yasa mempunyai empat orang sahabat, semuanya anak-anak orang
kaya yang bernama Vimala, Subahu, Punnaji, dan Gavampati. Mereka
mendengar bahwa Yasa sekarang sudah menjadi bhikkhu. Mereka menganggap
bahwa ajaran-ajaran yang benar-benar sempurnalah yang dapat menggerakkan
hati Yasa untuk meninggalkan kehidupannya yang mewah.
Karena itu mereka menemui bhikkhu Yasa yang kemudian membawa keempat
kawannya itu menghadap Sang Buddha. Setelah mendengar khotbah Sang
Buddha, mereka semua memperoleh Mata Dhamma dan kemudian diterima
menjadi bhikkhu.
Setelah mendapat penjelasan tambahan, keempat orang ini dalam waktu
singkat mencapai tingkat Arahat. Dengan demikian jumlah Arahat pada
waktu itu sebelas orang.
Tetapi bhikkhu Yasa mempunyai banyak teman lagi yang berada di
tempat-tempat jauh, semuanya berjumlah lima puluh orang. Mendengar
sahabat mereka menjadi bhikkhu, mereka pun mengambil keputusan untuk
mengikuti jejak bhikkhu Yasa. Mereka semua diterima menjadi bhikkhu dan
dalam waktu singkat semuanya mencapai tingkat Arahat, sehingga pada
waktu itu terdapat enam puluh satu orang Arahat.