Buddha Sakyamuni : “Penderitaan itu disebabkan oleh ketidaksadaran.
Oleh karena tidak mampu menembus ke Empat Kesunyataan Mulia itu,
menyebabkan perjalanan ini menjadi sangat lama, yang merupakan kelahiran
dan kematian silih berganti seperti yang dialami olehku dan juga
olehmu. Apakah keempat hal itu? Hal itu adalah Kesunyataan Mulia
mengenai Penderitaan, Kesunyataan Mulia tentang asal Mula Penderitaan,
Kesunyataan Mulia tentang lenyapnya Penderitaan dan Kesunyataan Mulia
tentang jalan yang menuju pada lenyapnya Penderitaan.
Tetapi sekarang, jika semua ini telah diamalkan dan telah ditembus,
juga keinginan untuk tumimbal lahir telah diputuskan maka berhentilah
segala sesuatu yang menuju pada pembentukan kembali segala sesuatu dan
tidak akan ada kelahiran baru lagi.”
Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Sacca)
1.Kebenaran mulia tentang penderitaan (dukkha ariya sacca)
2. Kebenaran mulia tentang sebab penderitaan (dukkha samudaya ariya sacca)
3. Kebenaran mulia lenyapnya penderitaan (dukkha nirodha ariya sacca)
4. Kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan (dukkha nirodha gamini patipada)
1.Kebenaran mulia tentang penderitaan (dukkha ariya sacca)
Buddha Sakyamuni : Dan apakah, para bhikkhu, Kebenaran Mulia
Penderitaan? Kelahiran adalah penderitaan, usia-tua adalah penderitaan,
kematian adalah penderitaan, dukacita adalah penderitaan, ratapan adalah
penderitaan, kesakitan adalah penderitaan, kesedihan dan kesusahan
adalah penderitaan. Berkumpul dengan yang tidak dicintai adalah
penderitaan, berpisah dari yang dicintai adalah penderitaan, tidak
mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan. Singkatnya, lima
gugus kemelekatan adalah penderitaan.’ ‘Dan apakah, para bhikkhu,
kelahiran? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apa pun juga, ada
kelahiran, akan datang, kedatangan, kemunculan gugus-gugus, mendapatkan
enam landasan. Itu para bhikkhu adalah yang disebut kelahiran.
‘Dan apakah usia-tua? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apa pun
juga, mengalami usia-tua, jompo,gigi tanggal, rambut memutih, kulit
keriput, mengerut seiring usia, indria-indria melemah, itu, para
bhikkhu,disebut usia-tua.’
‘Dan apakah kematian? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apa pun
juga, ada, mengalami kematian, musnah, terputus, lenyap, meninggal
dunia, sekarat, berakhir, terputusnya gugus-gugus, lepasnya jasmani,
itu, para bhikkhu, disebut kematian.’
‘Dan apakah dukacita? Ketika, karena kemalangan apa pun juga,
seseorang terpengaruh oleh sesuatu yang bersifat menyakitkan, berduka,
berkabung, bersusah hati, kesedihan di dalam, kesengsaraan di dalam,
itu, para bhikkhu, disebut dukacita.’
‘Dan apakah ratapan? Ketika, karena kemalangan apa pun juga,
seseorang terpengaruh oleh sesuatu yang bersifat menyakitkan dan menjadi
menangis, mengeluh, meraung karena sedih, meratap, itu, para bhikkhu,
disebut ratapan.’
‘Dan apakah kesakitan? Perasaan sakit apa pun pada jasmani, perasaan
tidak menyenangkan pada jasmani, perasaan sakit atau tidak menyenangkan
yang muncul dari kontak jasmani, itu, para bhikkhu, disebut kesakitan.’
‘Dan apakah kesedihan? Perasaan sakit apa pun pada batin, perasaan
tidak menyenangkan pada batin, perasaan sakit atau tidak menyenangkan
yang muncul dari kontak batin, itu, para bhikkhu, disebut kesedihan.’
‘Dan apakah kesusahan? Ketika, karena kemalangan apa pun juga,
seseorang terpengaruh oleh sesuatu yang bersifat menyakitkan, bersusah
hati, kesusahan besar, didera oleh kesusahan, oleh kesusahan besar, itu,
para bhikkhu, disebut kesusahan.’
‘Dan apakah, para bhikkhu, berkumpul dengan yang tidak dicintai? Di
sini, siapa pun yang tidak diinginkan, tidak disukai, objek-penglihatan,
bau-bauan, rasa-kecapan, objek-sentuhan atau objek-pikiran yang tidak
menyenangkan, atau siapa pun yang bertemu dengan orang yang mengharapkan
kemalangannya, orang yang mengharapkan kecelakaannya,
ketidaknyamanannya, ketidakamanannya, yang dengan mereka ia berkumpul,
bergaul, berhubungan, bergabung, itu, para bhikkhu, disebut berkumpul
dengan yang tidak dicintai.’
‘Dan apakah, para bhikkhu, berpisah dengan yang dicintai? Di sini,
siapa pun yang diinginkan, disukai, objek-penglihatan, bau-bauan,
rasa-kecapan, objek-sentuhan atau objek-pikiran yang menyenangkan, atau
siapa pun yang bertemu dengan orang yang mengharapkan kesejahteraannya,
orang yang mengharapkan kebaikannya, kenyamanannya, keamanannya, ibu
atau ayah atau saudara laki-laki atau perempuan atau sanak saudara atau
sahabat atau kerabat-sedarah, dan kemudian direnggut dari kebersamaan,
pergaulan, hubungan, gabungan demikian, itu, para bhikkhu, disebut
berpisah dari yang dicintai.
‘Dan apakah tidak mendapatkan apa yang diinginkan? Dalam diri
makhluk-makhluk yang mengalami kelahiran, para bhikkhu, keinginan ini
muncul: “Oh, seandainya kita tidak mengalami kelahiran, seandainya kita
tidak dilahirkan!” Tetapi hal ini tidak mungkin dicapai hanya dengan
menginginkan. Ini adalah tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam
diri makhluk-makhluk yang mengalami usia-tua, penyakit, dukacita,
ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesusahan muncul keinginan ini: “Oh,
seandainya kita tidak mengalami usia-tua, …, kesusahan, seandainya kita
tidak bertemu dengan hal-hal ini!” Tetapi hal-hal ini tidak mungkin
dicapai hanya dengan menginginkan. Ini adalah tidak mendapatkan apa yang
diinginkan.’
‘Dan bagaimanakah, para bhikkhu, singkatnya, lima gugus kemelekatan
adalah penderitaan? Yaitu sebagai berikut: gugus kemelekatan bentuk,
gugus kemelekatan perasaan, gugus kemelekatan persepsi, gugus
kemelekatan bentukan-bentukan batin, gugus kemelekatan kesadaran. Ini
adalah, singkatnya, lima gugus kemelekatan adalah penderitaan. Dan itu,
para bhikkhu, disebut Kebenaran Mulia Penderitaan.
2. Kebenaran mulia tentang sebab penderitaan (dukkha samudaya ariya sacca)
Buddha Sakyamuni : Dan apakah, para bhikkhu, Kebenaran Mulia
Asal-mula Penderitaan? Yaitu, keinginan yang memunculkan kelahiran, yang
bergabung dengan kesenangan dan nafsu, mencari kenikmatan baru di
sana-sini: dengan kata lain keinginan-indria, keinginan akan penjelmaan,
dan keinginan akan pemusnahan.’
‘Dan di manakah keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya? Di mana
pun di dunia ini terdapat hal-hal yang menyenangkan dan dapat
dinikmati, di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.’
‘Dan apakah di dunia ini, hal-hal yang menyenangkan dan dapat
dinikmati? Mata di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat
dinikmati, telinga …, hidung …, lidah …, badan …, pikiran di dunia ini
adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan
ini muncul dan mengukuhkan dirinya. Pemandangan-pemandangan,
suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek
pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati,
dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.
Kesadaran-mata, kesadaran-telinga, kesadaran-hidung, kesadaran-lidah,
kesadaran-badan, kesadaran pikiran di dunia ini adalah hal yang
menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan
mengukuhkan dirinya.
Kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah,
kontak-badan, kontak-pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan
dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan
dirinya. Perasaan yang muncul dari kontak-mata, kontak-telinga,
kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-badan, kontak-pikiran di dunia ini
adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan
ini muncul dan mengukuhkan dirinya.
Persepsi penglihatan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan,
objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang
menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan
mengukuhkan dirinya.
Kehendak sehubungan dengan penglihatan, suara-suara, bau-bauan,
rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini
adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan
ini muncul dan mengukuhkan dirinya.
Keinginan akan pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan,
objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal
yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul
dan mengukuhkan dirinya.
Awal-pikiran yang tertuju pada pemandangan-pemandangan, suara-suara,
bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di
dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana
keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.
Kelangsungan-pikiran yang tertuju pada pemandangan-pemandangan,
suara-suara, bau-bauan, rasa kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek
pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati,
dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.’
3. Kebenaran mulia lenyapnya penderitaan (dukkha nirodha ariya sacca)
Buddha Sakyamuni : Dan apakah, para bhikkhu, Kebenaran Mulia
Lenyapnya Penderitaan? Yaitu peluruhan total dan padamnya keinginan ini,
melepaskan dan meninggalkan, kebebasan darinya, terlepas darinya. Dan
bagaimanakah keinginan ini ditinggalkan, bagamanakah lenyapnya ini
muncul?’ ‘Di mana pun di dunia ini terdapat hal-hal yang menyenangkan
dan dapat dinikmati, di sana lenyapnya ini muncul. Dan apakah di dunia
ini, hal-hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati?’
‘Mata di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati,
telinga …, hidung …, lidah …, badan …, pikiran di dunia ini adalah hal
yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sanalah keinginan
ditinggalkan, di sanalah lenyapnya muncul. Kesadaran-mata,
kesadaran-telinga, kesadaran-hidung, kesadaran-lidah, kesadaran-badan,
kesadaran-pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat
dinikmati, dan di sanalah keinginan ditinggalkan, di sanalah lenyapnya
muncul.
Pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan,
objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang
menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sanalah keinginan ditinggalkan,
di sanalah lenyapnya muncul.
Kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah,
kontak-badan, kontak-pikiran …;Persepsi penglihatan, suara-suara,
bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran …;
kehendak sehubungan dengan penglihatan, suara-suara, bau-bauan,
rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran …; Keinginan
akan pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa kecapan,
objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran …; Awal-pikiran yang tertuju
pada pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan,
objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran …; Kelangsungan-pikiran yang
tertuju pada pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa
kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah
hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sanalah keinginan
ditinggalkan, di sanalah lenyapnya muncul. Dan itu, para bhikkhu,
disebut Lenyapnya Penderitaan.
4. Kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan (dukkha nirodha gamini patipada)
Buddha Sakyamuni : “Apakah kebenaran mulia tentang Jalan menuju
lenyapnya penderitaan itu? Inilah Jalan mulia beruas delapan, yaitu :
Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar,
Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar.”
Sumber : Sutta Pitaka-Digha Nikaya-MAHA VAGGA-22.Maha Satipatthana sutta
http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/mahasatipa%E1%B9%AD%E1%B9%ADhana-sutta/
Sutta Pitaka-Digha Nikaya-MAHA VAGGA-16.Maha Parinibbana sutta
http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/maha-parinibbana-sutta/