KALAMA SUTTA
A-I-191
Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/riwayat-hidup-buddha-gotama-bab-vi-tambahan/A-I-191
Demikianlah telah kudengar:
1. Suatu ketika Yang Dirahmati (Sang Buddha) mengembara di negara Kosala dengan rombongan besar bhikkhu dan memasuki kota Kesaputta.
Suku Kalama, yang menjadi penduduk kota Kesaputta mendengar bahwa Pertapa Gotama, seorang putra dari suku Sakya yang pergi bertapa, sekarang telah tiba di Kesaputta.
Berita yang tersiar luas tentang Pertapa Gotama yang sekarang menjadi Buddha, mengatakan:
“Beliau adalah Arahat, Yang memperoleh Penerangan Agung, Sempurna Dalam Pengetahuan dan Pelaksanaannya, Yang Terbahagia, Pembimbing Manusia Yang Tiada Taranya, Guru Para Dewa dan Manusia, Sang Buddha, Yang Dirahmati. Beliau memberitahukan dunia ini, bersama-sama dengan alam para dewa, mara, dan brahma, disertai para pertapa, brahmana, para dewa, dan manusia, sesuatu yang Beliau sendiri telah mengerti melalui pengetahuan yang luar biasa. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya, baik dalam teori maupun dalam pelaksanaannya. Secara sempurna Beliau menerangkan tentang penghidupan suci yang benar-benar bersih. Sungguh berharga sekali dapat melihat Arahat tersebut!”
Karena itu, maka suku Kalama dari Kesaputta datang mengunjungi Sang Buddha. Tiba di sana, ada yang memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada dan kemudian duduk di satu sisi; ada juga yang memberi hormat dengan berlutut, ada yang memberi hormat hanya dengan ucapan; ada yang menyembah; ada yang memberitahukan nama dan nama keluarganya; dan ada juga yang terus duduk tanpa mengucapkan kata apa pun.
2. Setelah mereka semua duduk, kemudian seorang berkata, “Yang Mulia, banyak pertapa dan brahmana yang berkunjung ke Kesaputta. Mereka menerangkan dan membahas dengan panjang lebar ajaran mereka sendiri, tetapi mencaci maki, menghina, merendahkan, dan mencela habis-habisan ajaran orang lain. Lalu datang pula pertapa dan brahmana lain ke Kesaputta. Dan mereka ini juga menerangkan dan membahas dengan panjang lebar ajaran mereka sendiri, dan mencaci-maki, menghina, merendahkan, dan mencela habis-habisan ajaran orang lain. Kami yang mendengar merasa ragu-ragu dan bingung, siapa diantara para pertapa dan brahmana yang berbicara benar dan siapa yang berdusta.”
3. “Benar, warga suku Kalama, sudah sewajarnyalah kamu ragu-ragu, sudah sewajarnyalah kamu bingung. Dalam hal yang meragukan memang akan menimbulkan kebingungan. Oleh karena itu, warga suku Kalama, janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang tertulis di dalam kitab-kitab suci; juga apa yang dikatakan sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka; juga apa yang katanya telah direnungkan dengan seksama; juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu; atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu.
Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, ‘Hal ini tidak berguna, hal ini tercela, hal ini tidak dibenarkan oleh para Bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan, maka sudah selayaknya kamu menolak hal-hal tersebut.”
4. “Sekarang, bagaimana pendapatmu, warga suku Kalama? Kalau keserakahan (lobha) timbul dalam diri seorang manusia, apakah itu membawa keuntungan atau kerugian?”
“Akan membawa kerugian, Yang Mulia.”
“Sekarang, warga suku Kalama, seseorang yang serakah dicengkeram oleh keserakahan dan tidak dapat mengendalikan dirinya lagi; apakah orang itu tidak mungkin akan membunuh makhluk hidup, mengambil sesuatu yang tidak diberikan, melakukan perzinahan, mengucapkan kata-kata yang tidak benar, dan juga menyebabkan orang lain berbuat demikian; bukankah hal itu akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan baginya untuk waktu yang lama?”
“Memang demikian, Yang Mulia.”
5. “Sekarang, bagaimana pendapatmu, warga suku Kalama? Kalau kebencian (dosa) timbul dalam diri seorang manusia, apakah itu akan membawa keuntungan atau kerugian?”
“Akan membawa kerugian, Yang Mulia.”
“Sekarang, warga suku Kalama, seseorang yang membenci, dicengkeram oleh kebencian dan tidak dapat mengendalikan dirinya lagi; apakah orang itu tidak mungkin akan membunuh makhluk hidup, mengambil sesuatu yang tidak diberikan, melakukan perzinahan, mengucapkan kata-kata yang tidak benar, dan juga menyebabkan orang lain berbuat demikian; bukankah hal itu akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan baginya untuk waktu yang lama?”
“Memang demikian, Yang Mulia.”
6. “Sekarang, bagaimana pendapatmu, warga suku Kalama? Kalau kegelapan batin (moha) timbul dalam diri seorang manusia, apakah itu akan membawa keuntungan atau kerugian?”
“Akan membawa kerugian, Yang Mulia.”
“Sekarang, warga suku Kalama, seseorang yang diliputi kegelapan batin (moha), dicengkeram oleh kegelapan batin dan tidak dapat mengendalikan dirinya lagi; apakah orang itu tidak mungkin akan membunuh makhluk hidup, mengambil sesuatu yang tidak diberikan, melakukan perzinahan, mengucapkan kata-kata yang tidak benar, dan juga menyebabkan orang lain berbuat demikian; bukankah hal itu akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan baginya untuk waktu yang lama?”
“Memang demikian, Yang Mulia.”
7. “Kalau begitu, warga suku Kalama, bagaimana pendapatmu? Apakah hal-hal tersebut baik atau tidak baik?”
“Tidak baik, Yang Mulia.”
“Apakah hal-hal tersebut tercela atau tidak tercela?”
“Tercela, Yang Mulia.”
“Apakah hal-hal tersebut dibenarkan atau tidak dibenarkan oleh para Bijaksana?”
“Tidak dibenarkan, Yang Mulia.”
“Kalau terus dilakukan, apakah itu akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan?”
“Akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan, Yang Mulia. Demikianlah pendapat kami.”
8. “Karena itu, warga suku Kalama, itulah yang Kumaksud dengan mengatakan, ‘Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu; atau oleh karena sesuatu yang merupakan tradisi; atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang dikatakan di dalam kitab-kitab suci; juga apa yang katanya sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka; juga apa yang katanya merupakan hasil dari suatu penelitian; juga apa yang katanya telah direnungkan dengan seksama; juga apa yang terlihat cocok dengan pandanganmu; atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu.’
Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, ‘Hal ini tidak berguna, hal ini tercela, hal ini tidak dibenarkan oleh para Bijaksana; hal ini kalau terus dilakukan akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan,’ maka sudah selayaknya kamu menolak hal-hal tersebut.”
9. “Kesimpulannya, warga suku Kalama, ‘Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu; atau oleh karena sesuatu yang merupakan tradisi; atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang dikatakan di dalam kitab-kitab suci; juga apa yang katanya sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka; juga apa yang katanya merupakan hasil dari suatu penelitian; juga apa yang katanya telah direnungkan dengan seksama; juga apa yang terlihat cocok dengan pandanganmu; atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu.’ Tetapi, setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, ‘Hal ini berguna; hal ini tidak tercela; hal ini dibenarkan oleh para Bijaksana; hal ini kalau terus dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan,’ maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut.”
10. “Bagaimana pendapatmu, warga suku Kalama? Apabila seseorang telah terbebas dari keserakahan (lobha), apakah hal ini merupakan keuntungan atau kerugian?”
“Keuntungan, Yang Mulia.”
“Bukankah orang ini, yang telah terbebas dari keserakahan dan tidak lagi dicengkeram oleh keserakahan, dan oleh karena ia dapat mengendalikan dirinya dengan baik, akan berhenti membunuh makhluk hidup, berhenti mengambil sesuatu yang tidak diberikan (mencuri), berhenti melakukan perzinahan berhenti mengucapkan kata-kata yang tidak benar, berhenti menjadi penyebab yang menyesatkan orang lain, tidak akan mendapatkan kerugian dan penderitaan untuk waktu yang lama?”
“Memang demikian halnya, Yang Mulia.”
11. “Sekarang, bagaimana pendapatmu, warga suku Kalama? Apabila seseorang telah terbebas dari kebencian (dosa), apakah hal ini merupakan keuntungan atau kerugian?”
“Keuntungan, Yang Mulia.”
“Bukankah orang ini, yang telah terbebas dari kebencian tidak lagi dicengkeram oleh kebencian….., berhenti menjadi penyebab yang menyesatkan orang lain, tidak akan mendapatkan kerugian dan penderitaan untuk waktu yang lama?”
“Memang demikian halnya, Yang Mulia.”
12. “Sekarang, bagaimana pendapatmu, warga suku Kalama? Apabila seseorang telah terbebas dari kegelapan batin (moha), apakah hal ini merupakan keuntungan atau kerugian?”
“Keuntungan, Yang Mulia.”
“Bukankah orang ini, yang telah terbebas dari kegelapan batin dan tidak lagi dicengkeram oleh kegelapan batin ….., berhenti menjadi penyebab yang menyesatkan orang lain, tidak akan mendapat kerugian dan penderitaan untuk waktu yang lama?”
“Memang demikian halnya, Yang Mulia.”
13. “Kalau begitu, warga suku Kalama, bagaimana pendapatmu? Apakah hal-hal tersebut menguntungkan atau tidak menguntungkan?”
“Menguntungkan, Yang Mulia.”
“Apakah hal-hal tersebut tercela atau tidak tercela?”
“Tidak tercela, Yang Mulia.”
“Apakah hal-hal tersebut dibenarkan atau tidak dibenarkan oleh para Bijaksana?”
“Dibenarkan, Yang Mulia.”
“Kalau terus dilakukan, apakah akan membawa kebahagiaan atau tidak?”
“Tentu akan membawa kebahagiaan. Demikianlah pendapat kami.”
14. “Demikianlah, warga suku Kalama, itulah yang Kumaksud dengan mengatakan, ‘Janganlah percaya begitu saja….., Tetapi apabila setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui hal ini berguna; hal ini tidak tercela; hal ini dibenarkan oleh para Bijaksana; hal ini kalau terus dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan, maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut.’ Itulah sebabnya, mengapa Aku mengucapkan kata-kata tersebut.”
15. “Sekarang, warga suku Kalama, seorang siswa Yang Ariya telah terbebas dari keserakahan dan kebencian, dan tidak lagi bingung tetapi dapat mengendalikan dirinya dengan baik dan pikirannya terpusat, sedangkan batinnya dipenuhi oleh kasih, belas kasih, simpati, dan keseimbangan batin yang berkembang terus tanpa batas, terbebas dari permusuhan dan perasaan tertekan; orang itu diumpamakan seperti diam di seperempat alam, kemudian di setengah alam, kemudian di tiga per empat alam dan akhirnya di seluruh alam. Dan dengan cara yang sama ke atas, ke bawah, ke samping, ke segenap penjuru, kepada semua makhluk, ia diam dengan batin penuh cinta kasih, belas kasih, simpati, dan keseimbangan batin yang ditujukan ke segenap penjuru alam, berkembang terus tanpa batas, terbebas dari permusuhan dan perasaan tertekan. Siswa yang demikian itu, yang hatinya terbebas dari permusuhan, terbebas dari perasaan tertekan, tidak ternoda dan bersih, orang itu dalam kehidupan ini juga akan memperoleh berkah yang menyenangkan, yaitu :
16. Kalau sekiranya ada alam lain setelah meninggal dunia, ada akibat dari perbuatan baik dan jahat; saat badan jasmaninya hancur setelah mati, ia akan bertumimbal lahir di alam surga. Ini adalah berkah pertama yang diperolehnya. Kalau sekiranya tidak ada alam lain setelah meninggal dunia, tidak ada akibat dari perbuatan baik dan jahat; namun kehidupan ini ia telah terbebas dari perasaan bermusuhan dan tertekan. Ini adalah berkah kedua yang diperolehnya.
Kalau sekiranya bencana menimpa yang berbuat jahat; namun aku sama sekali tidak bermaksud berbuat jahat terhadap siapa pun juga. Mana mungkin bencana dapat menimpa diriku yang tidak berbuat jahat? Ini adalah berkah ketiga yang diperolehnya. Kalau sekiranya tidak ada bencana menimpa yang berbuat jahat, maka aku tahu bahwa diriku bersih dari kedua segi. Ini adalah berkah keempat yang diperolehnya.
Dengan demikian, warga suku Kalama, siswa Ariya tersebut yang hatinya terbebas dari permusuhan dan perasaan tertekan, tak ternoda dan bersih, maka dalam kehidupan ini memperoleh empat berkah.”
17. “Memang demikianlah halnya, Yang Dirahmati. Memang demikianlah, Yang Terbahagia. Siswa Ariya tersebut dalam kehidupan ini akan memperoleh empat berkah (dengan mengulang apa yang diucapkan Sang Buddha).
Sungguh indah, Yang Mulia! Dengan ini kami menyatakan kami berlindung kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha. Semoga Yang Mulia berkenan menerima kami sebagai upasaka dan upasika, mulai hari ini sampai seumur hidup kami.”
SIGALOVADA SUTTA
Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/sigalovada-sutta/Demikian yang telah kami dengar :
1. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di Rajagaha, di Vihara Hutan Bambu di Kalandakanivapa (Tempat Pemeliharaan Tupai). Pada waktu itu, Sigala Putra kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha; dengan rambut dan pakaian basah dan sambil beranjali, ia menyembah ke berbagai arah, yaitu arah timur, selatan, barat, utara, bawah dan atas.
2. Dan Sang Bhagava pada pagi hari itu, setelah mengenakan jubah serta membawa mangkuk-Nya, pergi ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan (pindapata).
Kemudian Sang Bhagava melihat Sigala putra kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha; dengan rambut dan pakaian basah dan sambil beranjali, ia menyembah ke berbagai arah, yaitu arah timur, selatan, barat, utara, bawah dan atas. Dan Sang Bhagava bertanya kepada Sigala putra kepala keluarga itu demikian :
“O putra kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha; dengan rambut dan pakaian basah dan sambil beranjali, engkau menyembah ke berbagai arah, yaitu arah timur, selatan, barat, utara, bawah dan atas?”
“Bhante, ketika ayahku mendekati ajal, beliau berkata kepadaku untuk menyembah ke berbagai arah. Demikianlah, Bhante, karena menghormati, mengindahkan, menjunjung dan menganggap suci kata-kata ayahku itu, maka aku bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha. Dengan rambut dan pakaian basah dan sambil beranjali, aku menyembah ke berbagai arah, yaitu arah timur, selatan, barat, utara, bawah dan atas.”
“Tetapi, O putra kepala keluarga, dalam agama seorang Ariya enam arah itu tidak seharusnya disembah dengan cara demikian.”
“Bhante, bagaimana enam arah itu seharusnya disembah dalam agama seorang Ariya? Bhante, alangkah baiknya apabila Sang Bhagava berkenan mengajarkan ajaran yang menguraikan caranya enam arah itu harus disembah dalam agama seorang Ariya.”
3. “O putra kepala keluarga, dengarkan dan perhatikan baik-baik kata-kata-Ku, dan Aku akan berbicara.”
“Baiklah, Bhante,” jawab Sigala putra kepala keluarga itu kepada Sang Bhagava. Dan kemudian Sang Bhagava berkata:
“O putra kepala keluarga, karena siswa Ariya telah menyingkirkan empat kekotoran tingkah laku (kammakilesa), karena ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat (papakamma) yang didasari oleh empat dorongan, karena ia tidak mengejar enam saluran yang memboroskan kekayaan maka dengan menjauhi (na sevati) empat belas hal buruk ini, ia adalah seorang pengayom enam arah itu, seorang penakluk (vijaya), yaitu ia akan sejahtera dalam alam ini dan alam berikutnya. Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga.
Apakah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan itu? O putra kepala keluarga, itulah kekotoran tingkah laku membunuh mahluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berzinah dan berbohong. Inilah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan. Demikian sabda Sang Bhagava.
4. Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata lebih lanjut : ” Membunuh mahluk hidup, mencuri, berbohong, berzinah, Untuk perbuatan-perbuatan ini, para bijaksana tidak memuji.”
5. “Apakah empat dorongan yang mendasari perbuatan perbuatan jahat yang tidak ia lakukan itu? Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan rasa senang sepihak (chanda gati), perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan kebencian (dosa gati), perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan ketidaktahuan (moha gati) dan perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan rasa takut (bhaya gati). Tetapi, O putra kepala keluarga, karena siswa Ariya tidak terseret oleh dorongan rasa senang sepihak, tidak terseret oleh dorongan kebencian, tidak terseret oleh dorongan ketidaktahuan dan tidak terseret oleh dorongan rasa takut, maka ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat karena empat dorongan ini. Demikian sabda Sang Bhagava.
6. Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata lebih lanjut :
“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian,
Atau ketidaktahuan atau ketakutan telah melanggar Dhamma,
Maka nama baik dan kemasyhurannya akan menjadi pudar
Bagaikan bulan yang susut pada masa bulan-gelap.
“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian
Atau ketidaktahuan atau ketakutan tidak pernah melanggar Dhamma,
Maka nama baik dan kemasyhurannya menjadi sempurna dan penuh
Bagaikan bulan purnama pada masa bulan-terang.”
7. “Dan apakah enam saluran yang memboroskan kekayaan itu? O putra kepala keluarga, gemar minum-minuman yang memabukkan, sering berkeliaran di jalan jalan pada saat yang tidak pantas, mengejar tempat-tempat hiburan, gemar berjudi, bergaul dengan teman-teman jahat dan kebiasaan menganggur (malas) adalah enam saluran yang memboroskan kekayaan.”
8. “O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya (adinava) akibat gemar minum minuman yang memabukkan (surameraya majjapamadatthananuyoga), yaitu : kerugian harta secara nyata, bertambahnya pertengkaran, tubuh mudah terserang penyakit, kehilangan sifat yang baik, terlihat tidak sopan, kecerdasan menjadi lemah. Inilah, O putra kepala keluarga, enam bahaya akibat gemar minum minuman yang memabukkan.”
9. “O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat sering berkeliaran di jalan jalan pada saat yang tidak pantas (vikala visikhacariyanuyoga), yaitu : dirinya sendiri tidak terjaga (agutta) dan tidak terlindung (arakkhita), anak istrinya tidak terjaga dan tidak terlindung, harta kekayaannya tidak terjaga dan terlindung, juga ia dapat dituduh sebagai pelaku kejahatan-kejahatan (yang belum terbukti), menjadi sasaran desas-desus palsu, ia akan menjumpai banyak kesulitan. Inilah, O putra kepala keluarga, enam bahaya akibat sering berkeliaran di jalan-jalan pada saat yang tidak pantas.”
10. “O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat mengejar tempat-tempat hiburan (samajjabhicarane) : (Ia selalu berpikir) di manakah ada tari-tarian? Di manakah ada nyanyi-nyanyian? Di manakah ada pertunjukan musik? Di manakah ada pembacaan deklamasi? Di manakah ada permainan tambur? Di manakah ada permainan genderang? Inilah, O putra kepala keluarga, enam bahaya akibat mengejar tempat-tempat hiburan.”
11. “O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat gemar berjudi : bila menang, ia memperoleh kebencian; bila kalah, ia meratapi harta kekayaannya yang telah hilang; kerugian harta benda secara nyata; di pengadilan kata-katanya tidak berharga; ia dipandang rendah oleh sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah; ia tidak disukai oleh orang-orang yang akan mencari atau mengambil menantu, karena mereka akan berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat memelihara seorang istri. Inilah, O putra kepala keluarga, enam bahaya akibat gemar berjudi.”
12. “O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat bergaul dengan teman-teman jahat (papamitta) : setiap penjudi, setiap orang yang gemar berfoya-foya, setiap pemabuk, setiap penipu, setiap pengecoh, setiap orang yang kejam adalah teman dan sahabatnya. Inilah, O putra kepala keluarga, enam bahaya akibat bergaul dengan teman-teman jahat.”
13. “O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat kebiasaan menganggur (malas) : ia berkata : “terlalu dingin”, dan ia tidak bekerja; ia berkata: “terlalu panas”, dan ia tidak bekerja; ia berkata: “terlalu pagi”, dan ia tidak bekerja; ia berkata: “terlalu siang”, dan ia tidak bekerja; ia berkata: “aku terlalu lapar”, dan ia tidak bekerja; ia berkata: “aku terlalu kenyang”, dan ia tidak bekerja.
Dengan demikian semua yang harus ia kerjakan tetap tidak dikerjakan, harta kekayaan baru tidak ia peroleh, dan harta kekayaan yang sudah ia miliki menjadi habis. Demikian sabda Sang Bhagava.
14. Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata lebih lanjut:
Beberapa teman hanyalah kawan minum;
Beberapa teman adalah mereka yang di hadapanmu akan berkata :
Sahabat baik! Sahabat baik!
Tetapi seseorang yang menyatakan kawan pada saat engkau membutuhkan,
Maka dia sesungguhnya yang layak disebut kawan olehmu.
Tidur sewaktu matahari telah terbit, perzinahan,
Terlibat dalam pertengkaran dan berbuat merugikan,
Bersahabat dengan orang-orang jahat dan berhati kejam :
Inilah enam sebab yang menjadikan keruntuhan seseorang.
Ia yang berteman dan bersahabat dengan orang-orang jahat
Ia yang dalam hidupnya melakukan hal-hal buruk, maka
Baik di alam ini maupun di alam berikutnya
Orang itu akan mengalami keruntuhan yang menyedihkan.
Berjudi dan wanita, minuman keras, tari-tarian dan nyanyian
Tidur pada siang hari dan berkeliaran pada malam hari.
Bersahabat dengan orang-orang jahat, berhati kejam :
Inilah enam sebab yang menjadikan keruntuhan seseorang.
Bermain dadu, minum-minuman keras, ia pergi kepada
Wanita-wanita yang amat dicintai laki-laki lain,
Mengikuti yang berpikiran rendah, bukan yang berpikiran mulia,
Maka ia akan menjadi suram bagai bulan yang menyusut pada masa bulan-gelap.
Pecandu minuman keras, miskin, melarat,
Seorang yang haus sewaktu minum, pengejar kedai minuman,
Demikian ia tenggelam dalam hutang-hutang, bagai batu dalam air;
Cepat sekali ia membawa nista pada keluarganya.
Ia yang mempunyai kebiasaan tidur pada waktu siang,
Yang menganggap malam sebagai waktu untuk berjaga,
Ia yang selalu tidak bertanggung jawab, dipenuhi dengan anggur,
Ia yang tidak cakap untuk membina rumah tangga.
Terlalu dingin! Terlalu panas! Terlalu siang! demikian keluhannya,
Dengan cara begitu orang malas menghindari pekerjaan yang menanti,
Sehingga kesempatan baik akan berlalu.
Tetapi ia yang menganggap dingin dan panas sebagai hal yang remeh
Dengan cara apa pun ia tidak akan kehilangan kebahagiaannya.
15. “O putra kepala keluarga, terdapat empat macam orang yang harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat (amittamittapatirupaka) : Yaitu orang yang tamak (annadatthuharo); orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apa (vaci paramo); penjilat (annuppiyabhani); kawan pemboros (apayasahayo).
16. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, orang yang tamak harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat : ia tamak; ia memberi sedikit dan meminta banyak; ia melakukan kewajibannya karena takut; ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah orang yang tamak harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat.
17. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apa harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat: ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang lampau; ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal mendatang; ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong; bila ada kesempatan untuk membantu ia menyatakan tidak sanggup. O putra kepala keluarga; atas empat dasar inilah orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apa harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat.
18. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, seorang penjilat harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat: ia menyetujui hal-hal yang salah; juga ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar; ia akan memuji dirimu di hadapanmu; ia berbicara jelek tentang dirimu di hadapan orang-orang lain. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah seorang penjilat harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat.
19. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, seorang kawan pemboros harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat: ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar akan minum-minuman keras; ia menjadi kawanmu apabila engkau sering herkeliaran di jalan- jalan pada waktu yang tidak pantas; ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan dan pertunjukan; ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjudi. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah seorang kawan pemboros harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat. Demikian sabda Sang Bhagava.
20. Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata lebih lanjut :
Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil,
Sahabat yang kata-katanya berlainan dengan perbuatannya
Sahabat yang menjilat, lagi pula hanya berusaha membuat engkau senang
Sahabat yang bergembira dengan cara-cara jahat
Empat ini adalah musuh-musuh
Setelah menyadarinya demikian
Biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh,
Seakan mereka jalan yang berbahaya dan menakutkan.
21. “O putra kepala keluarga, terdapat empat macam sahabat yang harus dipandang berhati tulus (suhada) : yaitu sahabat penolong (upakaro mitto); sahabat pada waktu senang dan susah (samanasukha dukkhomitto); sahabat yang memberi nasehat baik (atthakhaya mitto); sahabat yang bersimpati (anukampako-mitto).
22. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, sahabat penolong harus dipandang berhati tulus: ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah; ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah; ia menjadi pelindung dirimu sewaktu engkau dalam keadaan ketakutan; ia memberikan bantuan dua kali daripada apa yang kau perlukan. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah sahabat penolong harus dipandang berhati tulus.
23. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, sahabat pada waktu senang dan susah harus dipandang berhati tulus: ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu; ia menjaga rahasia-rahasia dirimu; ia tidak akan meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan; ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah sahabat pada waktu senang dan susah harus dipandang berhati tulus.
24. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, sahabat yang menasehatkan apa yang perlu engkau lakukan harus dipandang berhati tulus: Ia mencegah engkau berbuat jahat; ia menganjurkan engkau untuk berbuat yang benar; ia memberitahukan apa yang belum engkau pernah dengar; ia menunjukkan engkau jalan ke surga. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah sahabat yang menasehatkan apa yang perlu engkau lakukan harus dipandang berhati tulus.
25. Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, sahabat yang bersimpati harus dipandang berhati tulus : ia tidak bergembira atas kesengsaraanmu; ia merasa senang atas kesejahteraanmu, ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu, ia membenarkan orang lain yang memuji dirimu. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah sahabat yang bersimpati harus dipandang berhati tulus. Demikian sabda Sang Bhagava.
26. Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata lebih lanjut :
Sahabat yang menjadi penolong, dan sahabat
Pada hari-hari terang dan gelap; ia yang menunjukkan
Apa yang engkau perlukan, dan ia yang bergetar dengan simpati
Untuk dirimu : empat macam orang ini, seorang bijaksana harus mengenali
Sebagai sahabat-sahabat, dan ia harus membaktikan dirinya kepada mereka
Seperti seorang ibu kepada anaknya sendiri, anak kesayangannya.
Siapa pun yang bajik dan pandai
Bercahaya seperti api yang menyala di bukit
Baginya, mengumpulkan kekayaan adalah seperti lebah berterbangan
Yang mengumpulkan madu tanpa mengganggu siapapun
Kekayaan menumpuk tinggi bagaikan timbunan bukit semut
Bila kekayaan orang berkeluarga yang baik telah terkumpul seperti itu
Dapatlah ia memberi manfaat warganya
Biarlah ia membagi kekayaannya dalam empat bagian
Demikianlah ia mengikat kehidupannya dengan hal-hal yang baik
Satu bagian biarlah dipergunakan dan dinikmati sebagai buah usaha,
Dua bagian untuk melangsungkan usahanya
Bagian keempat biarlah dicadangkan dan ditabung
Sehingga ada persediaan pada saat yang sulit.
27. O putra kepala keluarga, bagaimana caranya siswa Ariya melindungi enam arah itu? O putra kepala keluarga, enam arah itu harus dipandang sebagai berikut : ibu dan ayah seperti arah Timur, para guru seperti arah Selatan; istri dan anak-anak seperti arah Barat; sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara; pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah; guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas.
28. O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang anak harus memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur: dahulu aku dirawat oleh mereka, sekarang aku akan merawat mereka; aku akan memikul beban kewajiban-kewajiban mereka; aku akan mempertahankan keturunan dan tradisi keluarga; aku akan menjadikan diriku pantas menerima warisan; aku akan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan upacara agama setelah mereka meninggal dunia.
Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, orang tua yang diperlakukan demikian oleh seorang anak seperti arah Timur, menunjukkan kecintaan mereka kepadanya: mereka mencegahnya berbuat jahat; mereka mendorongnya berbuat baik; mereka melatihnya dalam suatu profesi; mereka mencarikan pasangan (istri) yang pantas baginya; dan pada waktu yang tepat, mereka menyerahkan warisan mereka kepadanya.
O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang anak memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur. Dalam lima cara inilah orang tua menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah timur ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
29. O putra kepala keluarga, dalam lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan: dengan bangkit (dari tempat duduk untuk memberi hormat); dengan melayani mereka; dengan bersemangat untuk belajar; dengan memberikan jasa jasa kepada mereka; dengan memberikan perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka.
Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, guru-guru yang diperlakukan demikian oleh siswa-siswa mereka seperti arah Selatan, mencintai siswa-siswa mereka: mereka melatihnya sedemikian rupa sehingga ia terlalu baik; mereka membuatnya menguasai apa yang telah diajarkan; mereka mengajarnya secara menyeluruh dalam berbagai ilmu dan seni; mereka berbicara baik tentang dirinya di antara sahabat-sahabatnya dan kawan-kawannya; mereka menjaga keselamatannya di semua tempat.
O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah siswa-siswa memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan. Dalam lima cara inilah guru-guru mencintai siswa-siswa mereka. Demikianlah arah Selatan ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
30. O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang istri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah Barat: dengan menghormati; dengan bersikap ramah-tamah; dengan kesetiaan; dengan menyerahkan kekuasaan rumah tangga kepadanya; dengan memberi barang-barang perhiasan kepadanya.
Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, seorang istri yang diperlakukan demikian oleh suaminya seperti arah Barat, mencintainya: menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik; bersikap ramah-tamah terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak; dengan kesetiaan; dengan menjaga barang-barang yang diberikan suaminya; pandai dan rajin dalam melaksanakan segala tanggung jawabnya.
O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang suanti memperlakukan istrinya seperti arah Barat. Dalam lima cara ini seorang istri mencintai suaminya. Demikianlah arah barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
31. O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara: dengan bermurah hati; berlaku ramah tamah; memberikan bantuan; dengan memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan dirinya sendiri; dengan berbuat sebaik ucapannya.
Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, sahabat-sahabat dan kawan-kawan yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah Utara, mencintainya: mereka melindunginya sewaktu ia lengah; mereka melindungi harta miliknya sewaktu ia lengah; mereka menjadi pelindung sewaktu ia berada dalam bahaya; mereka tidak akan meninggalkannya sewaktu ia sedang dalam kesulitan; mereka menghormati keluarganya.
O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara. Dalam lima cara inilah sahabat sahabat dan kawan-kawan mencintainya. Demikianlah arah utara ini dilindungi, diselamatkan den diamankan olehnya.
32. O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah : dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka; dengan memberikan mereka makanan dan upah; dengan merawat mereka sewaktu mereka sakit; dengan membagi barang-barang kebutuhan hidupnya; dengan memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu.
Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan yang diperlakukan demikian oleh seorang majikan seperti arah bawah, akan mencintainya : mereka bangun lebih pagi daripadanya; mereka merebahkan diri untuk beristirahat setelahnya; mereka merasa puas dengan apa yang diberikan kepada mereka; mereka melakukan kewajiban-kewajiban mereka dengan baik; di manapun mereka berada mereka akan memuji majikannya, memuji keharuman namanya.
O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah. Dalam lima cara inilah pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan mencintainya. Demikianlah arah bawah ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
33. O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang warga keluarga harus memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas : dengan cinta kasih dalam perbuatan; dengan cinta kasih dalam perkataan; dengan cinta kasih dalam pikiran; membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan mereka); menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu.
Dalam enam cara ini, O putra kepala keluarga, para pertapa dan brahmana yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah atas, akan menunjukkan kecintaan mereka : mereka mencegah ia berbuat jahat; mereka menganjurkan ia berbuat baik; mereka mencintainya dengan pikiran penuh kasih sayang; mereka mengajarkan apa yang belum pernah ia dengar; mereka membenarkan dan memurnikan apa yang pernah ia dengar; mereka menunjukkan ia jalan ke surga.
O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas. Dalam enam cara inilah para pertapa dan brahmana menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah atas ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
Demikian sabda Sang Bhagava.
34. Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata lebih lanjut :
Ibu dan ayah adalah arah timur,
Dan guru-guru adalah arah selatan
Istri den anak-anak adalah arah barat,
Dan sahabat-sahabat serta sanak keluarga adalah arah utara;
Para pelayan dan karyawan adalah arah bawah
Dan arah atas adalah para pertapa dan brahmana
Semua arah ini harus disembah oleh orang yang
Pantas menjabat sebagai kepala keluarga dalam warganya.
Ia yang bijaksana, terlatih dalam cara-cara bajik
Lemah lembut dan pandai dalam pemujaan ini,
Rendah hati dan patuh, maka ia akan memperoleh kehormatan.
Bangun pagi-pagi, musuh pada kemalasan,
Tak goyah dalam kemalangan-kemalangan, kehidupannya
Tanpa cacat, bijaksana, maka ia akan memperoleh kehormatan
Bila ia telah mendapatkan cara-cara dan membuat sahabat-sahabat
Menyambut dengan kata-kata yang ramah dan hati yang tulus
Dan ia dapat memberi petunjuk dan nasehat yang bijaksana
Dan membimbing sahabat-sahabatnya, maka ia akan memperoleh kehormatan.
Tangan pemberi, ucapan ramah tamah
Kehidupan penuh pengabdian, tak membedakan diri sendiri
Dengan orang lain, seperti diminta keadaan :
Inilah yang membuat dunia berputar
Seperti poros memberikan jasa pada majunya kereta
Dan bila hal-hal demikian tidak ada, tiada seorang ibu akan menerima
Penghormatan dan penghargaan yang seharusnya diberikan oleh anak-anaknya
Juga sang ayah yang seharusnya memperoleh hal-hal ini dari anak-anaknya
Dan karena para bijaksana dengan tepat memuji akan hal-hal ini
Mereka memperoleh keluhuran dan pujian manusia.
Setelah Beliau selesai berkata demikian, Sigala, putra kepala keluarga itu, berkata kepada Sang Bhagava : “Sungguh mengagumkan, Bhante! Sungguh mengagumkan, Bhante! Sama halnya seperti seseorang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan benar kepada yang tersesat, atau memberikan cahaya dalam kegelapan: agar mereka yang mempunyai mata dapat melihat benda-benda di sekitarnya. Demikian pula, dengan berbagai macam cara Dhamma telah dibabarkan oleh Sang Bhagava kepadaku. Dan sekarang, Bhante, aku menyatakan berlindung kepada Sang Bhagava, Dhamma serta Sangha. Semoga Sang Bhagava berkenan menerima aku sebagai seorang upasaka, yang sejak hari ini sampai selama-lamanya telah menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha.
KAMMA DAN TUMIMBAL LAHIR
A.X.205
Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/riwayat-hidup-buddha-gotama-bab-vi-tambahan/A.X.205
Pemilik dari perbuatan (kamma- pali; karma- skrt) adalah makhluk, ia adalah pewaris dari perbuatannya. Perbuatannya adalah rahim dari mana ia lahir, kepada perbuatannya ia terikat, namun perbuatannya juga merupakan pelindungnya. Perbuatan apa pun yang ia lakukan, baik atau buruk, ia juga kelak yang akan mewarisinya.
Terdapat orang yang gemar membunuh makhluk hidup, mengambil milik orang lain, melakukan perbuatan asusila, berbicara yang tidak benar, sering menceritakan keburukan orang, menggunakan kata-kata kasar, suka bicara hal-hal yang tidak perlu, tamak, berhati kejam, dan mengikuti pandangan yang keliru.
Dan ia terikat erat kepada perbuatan yang dilakukan dengan badan jasmani, ucapan, atau pikiran. Dengan sembunyi-sembunyi ia melakukan perbuatan-perbuatan, mengucapkan kata-kata dan memikirkan sesuatu; dan sembunyi-sembunyi pula cara dan tujuannya.
Tetapi Aku katakan kepadamu, “Bagaimanapun tersembunyi cara dan tujuannya, orang itu pasti akan menerima salah satu dari kedua akibat ini, yaitu siksaan di neraka atau terlahir sebagai binatang yang merangkak.”
Demikianlah tumimbal lahir dari makhluk-makhluk, “Sesuai dengan kammanya, mereka akan bertumimbal lahir. Dan dalam tumimbal lahirnya itu, mereka akan menerima akibat dari perbuatan mereka sendiri.”
Karena itu Aku menyatakan, “Pemilik dari perbuatan adalah makhluk, ia adalah pewaris dari perbuatannya. Perbuatannya adalah rahim darimana ia lahir, kepada perbuatannya ia terikat, namun perbuatannya juga merupakan pelindungnya. Perbuatan apa pun yang ia lakukan, baik atau buruk, ia juga kelak yang akan menjadi pewarisnya.”
M.123
Pemilik dan pewaris adalah makhluk ….., perbuatanlah yang kelak akan membedakan manusia menjadi mulia dan rendah. Terdapat lelaki dan perempuan yang membunuh makhluk hidup, kejam, gemar memukul dan membunuh, tanpa mempunyai rasa kasihan kepada makhluk-makhluk hidup. Dengan perbuatan yang dilakukannya ini, maka orang itu, ketika badan jasmaninya hancur setelah meninggal, akan terjatuh di alam-alam rendah yang penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau apabila ia terlahirkan kembali sebagai manusia atau di alam mana pun ia bertumimbal lahir, maka umurnya akan pendek.
Terdapat orang yang mempunyai kebiasaan menyakiti makhluk lain dengan menggunakan tinju, batu, tongkat, atau pedang. Dengan melakukan perbuatan ini, ia akan terjatuh ke alam-alam rendah yang penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau apabila ia terlahirkan kembali sebagai manusia, atau di alam mana pun ia bertumimbal lahir, maka ia akan menderita banyak penyakit.
Terdapat orang yang cepat marah, lekas naik darah; untuk hal kecil saja yang diceritakan kepadanya ia sudah menjadi murka, marah, keras kepala, memperlihatkan kegusarannya, kebenciannya, dan kecurigaannya. Dengan melakukan perbuatan ini, ia akan terjatuh ke alam-alam rendah yang penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau apabila ia terlahirkan kembali sebagai manusia, atau di alam mana pun ia bertumimbal lahir, maka ia akan mempunyai rupa yang buruk.
Terdapat orang yang suka iri hati, penuh rasa dengki dan benci, iri bila orang lain menerima hadiah, diberi tempat menginap, penghargaan, penghormatan, dimuliakan, dan diberikan persembahan dengan penuh sopan santun. Dengan melakukan perbuatan ini, ia akan terjatuh ke alam-alam rendah yang penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau apabila ia terlahirkan kembali sebagai manusia atau di alam mana pun ia bertumimbal lahir, maka ia akan mempunyai pengaruh sedikit sekali.
Terdapat orang yang tak pernah memberikan makanan, minuman, jubah, transportasi, bunga, wangi-wangian, obat-obatan, tempat menginap, tempat tinggal, lampu, dan sebagainya kepada para bhikkhu atau pandita. Dengan tidak pernah melakukan perbuatan ini, ia akan terjatuh di alam-alam rendah yang penuh kesedihan dan penderitaan atau apabila ia terlahirkan kembali sebagai manusia atau di alam mana pun ia bertumimbal lahir, maka ia akan menjadi orang yang miskin.
Terdapat orang yang tinggi hati dan penuh kesombongan, tidak mau menghormat kepada mereka yang patut dihormati, tidak mau berdiri untuk siapa ia patut berdiri, tidak memberikan tempat duduk kepada yang patut diberi tempat duduk, tidak memberikan tempat menginap kepada yang patut untuk diberikan tempat menginap, tidak menjamu mereka yang patut dijamu, tidak memberikan penghormatan dan penghargaan kepada mereka yang patut diberikan penghormatan dan penghargaan, dan juga tidak memberikan persembahan kepada yang patut diberi persembahan. Dengan tidak pernah melakukan perbuatan ini, ia akan terjatuh ke alam-alam rendah yang penuh kesedihan dan penderitaan atau apabila ia terlahirkan kembali sebagai manusia atau di alam mana pun ia bertumimbal lahir, maka ia akan menjadi orang rendah.
Terdapat orang yang tidak mengunjungi para bhikkhu dan pandita untuk menanyakan kepada mereka, “Apakah yang dimaksud dengan kamma baik, Bhante? Apakah yang dimaksud dengan kamma tidak baik? Apa yang tercela? Apa yang terpuji? Apa yang harus dilakukan? Apa yang tidak baik dilakukan? Perbuatan apakah yang mengakibatkan celaka dan penderitaan untuk waktu yang lama? Perbuatan mana yang dapat membawa berkah dan kebahagiaan untuk waktu yang lama?” Dengan tidak melakukan perbuatan ini, ia akan terjatuh ke alam-alam rendah yang penuh kesedihan dan penderitaan atau apabila ia terlahirkan kembali sebagai manusia atau di alam mana pun ia bertumimbal lahir, maka ia akan menjadi orang dungu.
A.IV. 197
Apakah sebabnya, Bhante, ada perempuan yang buruk rupanya dan sangat jahat kelihatannya; dan perempuan ini miskin, tanpa wibawa, tanpa harta, dan tanpa pengaruh?
Dan apakah sebabnya ada perempuan yang buruk parasnya dan sangat jahat kelihatannya; namun perempuan ini kaya raya, mempunyai wibawa yang besar, memiliki harta dan pengaruh?
Dan apakah sebabnya ada perempuan yang cantik parasnya, sedap dipandang, elok sekali; tetapi perempuan ini miskin, tanpa wibawa, tanpa harta, dan tanpa pengaruh?
Dan apakah sebabnya ada perempuan yang cantik parasnya, sedap dipandang, elok sekali, kaya-raya, mempunyai wibawa yang besar, serta memiliki harta dan pengaruh?
Ada perempuan yang bernama Mallika yang cepat marah, lekas naik darah; untuk hal kecil saja yang diceritakan kepadanya, ia sudah menjadi murka, marah, keras kepala, memperlihatkan kegusarannya, kebenciannya, den kecurigaannya.
Dan ia tidak pernah mempersembahkan makanan, minuman, jubah, transportasi, bunga, wangi-wangian, obat-obatan, tempat menginap, tempat tinggal, lampu, dan sebagainya kepada para bhikkhu dan pandita.
Dan ia sering iri, penuh rasa dengki den benci, iri jika orang lain menerima hadiah, diberikan tempat menginap, penghargaan, penghormatan, dimuliakan, dan diberikan persembahan dengan penuh sopan santun.
Perempuan ini setelah meninggal akan bertumimbal lahir lagi, baik di dunia ini maupun di alam mana pun dengan paras yang buruk dan sangat jahat kelihatannya, di samping itu ia pun miskin, tanpa wibawa, tanpa harta, dan tanpa pengaruh.
Ada perempuan yang cepat marah, lekas naik darah, hal kecil saja yang diceritakan kepadanya menjadikannya murka, marah, keras kepala, memperlihatkan kegusarannya, kebenciannya dan kecurigaannya. Tetapi ia mempersembahkan makanan, minuman, jubah, transportasi, bunga, wangi-wangian, obat-obatan, tempat menginap, tempat tinggal, lampu, dan sebagainya kepada para bhikkhu dan pandita.
Dan ia juga tidak suka iri hati, tidak dengki dan benci, tidak iri jika orang lain menerima hadiah, diberikan tempat menginap, penghargaan, penghormatan, dimuliakan, dan diberikan persembahan dengan penuh sopan santun.
Perempuan ini setelah meninggal akan bertumimbal lahir lagi, baik di dunia ini maupun di alam mana pun dengan paras yang buruk dan sangat jahat kelihatannya tetapi ia akan kaya raya, mempunyai wibawa yang besar, serta memiliki harta dan pengaruh.
Ada perempuan lain yang tidak cepat marah, tidak lekas naik darah, …..tetapi ia tidak mempersembahkan makanan, minuman, dan ia suka iri hati dan diliputi dengki dan benci, …….
Perempuan ini setelah meninggal akan bertumimbal lahir lagi, baik di dunia ini, maupun di alam mana pun dengan paras yang cantik, sedap dipandang, dan elok sekali tetapi ia miskin, tanpa wibawa, tanpa harta, dan tanpa pengaruh.
Ada perempuan lain yang tidak cepat marah, tidak lekas naik darah, dan ia mempersembahkan makanan, minuman, …. dan ia tidak suka iri hati, tidak diliputi dengki den benci …….
Perempuan ini setelah meninggal akan bertumimbal lahir lagi, baik di dunia ini maupun di alam mana pun dengan paras yang cantik, sedap dipandang, elok sekali, kaya raya, mempunyai wibawa yang besar, serta memiliki harta dan pengaruh.
A.III.40
Membunuh makhluk hidup, oh Bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering dilakukan akan membawa orang tersebut setelah meninggal bertumimbal lahir di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat sering membunuh mahluk hidup membuat orang tersebut pendek umur.
Mengambil milik orang lain, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering dilakukan akan membawa orang tersebut setelah meninggal bertumimbal lahir di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat sering mengambil milik orang lain membuat orang tersebut kehilangan miliknya.
Melakukan perbuatan asusila, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering dilakukan akan membawa orang tersebut setelah meninggal bertumimbal lahir di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat sering melakukan perbuatan asusila membuat orang tersebut dijauhi dan dimusuhi oleh lingkungannya.
Berdusta, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering dilakukan akan membawa orang tersebut setelah meninggal bertumimbal lahir di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat sering berdusta membuat orang tersebut mendapat tuduhan atas sesuatu yang tidak dilakukannya.
Sering membicarakan keburukan orang lain, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering dilakukan akan membawa orang tersebut setelah meninggal bertumimbal lahir di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari orang yang suka menceritakan keburukan orang lain membuat ia ditinggalkan kawan-kawannya.
Menggunakan kata-kata kasar, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering dilakukan akan membawa orang tersebut setelah meninggal bertumimbal lahir di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat sering menggunakan kata-kata kasar membuat orang tersebut sering menerima kata-kata yang tidak menyenangkan.
Berbicara hal yang tidak perlu (omong-kosong), menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering dilakukan akan membawa orang tersebut setelah meninggal bertumimbal lahir di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat sering berbicara hal yang tidak perlu (omong-kosong) membuat orang tersebut tidak dapat berbicara dengan jelas.
Minum minuman keras, seperti anggur dan arak, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering dilakukan akan membawa orang tersebut setelah meninggal akan bertumimbal lahir di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat sering minum minuman keras dan mengkonsumsi zat lain yang dapat melemahkan kesadaran akan membuat orang tersebut mabuk dan ketagihan.
A.III.33
Oh Bhikkhu, terdapat tiga keadaan yang merupakan akar dari terjadinya kamma (perbuatan), yaitu: keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha).
Perbuatan, oh Bhikkhu, yang dilakukan berdasarkan lobha, yang timbul karena lobha, dihasilkan oleh lobha, maka perbuatan ini akan masak, dimana saja makhluk itu bertumimbal lahir; dan bilamana perbuatan itu masak, maka makhluk itu akan memetik buah (hasil) dari perbuatannya, mungkin dalam kehidupan ini, dalam kehidupan berikutnya, atau dalam kehidupan-kehidupan mendatang.
Perbuatan yang dilakukan berdasarkan dosa, yang timbul karena dosa, dihasilkan oleh dosa, maka perbuatan ini akan masak dimana saja makhluk itu bertumimbal lahir; dan bilamana perbuatan itu masak, maka makhluk itu akan memetik buah (hasil) dari perbuatannya, mungkin dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan berikutnya, atau dalam kehidupan-kehidupan mendatang.
Perbuatan yang dilakukan berdasarkan moha, yang timbul karena moha, dihasilkan oleh moha, maka perbuatan ini akan masak dimana saja makhluk itu bertumimbal lahir; dan bilamana perbuatan itu masak, maka makhluk itu akan memetik buah (hasil) dari perbuatannya, mungkin dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan berikutnya, atau dalam kehidupan-kehidupan mendatang.
Keadaannya sama seperti benih yang tidak rusak dan tidak busuk, tidak rusak oleh angin dan panas matahari tetapi sehat dan tahan lama; setelah ditebarkan di tanah yang subur dan dipersiapkan dengan baik serta cukup mendapat air hujan, akan menitis, tumbuh dengan baik dan berkembang dengan sempurna.
S.XXII
Maka akan datanglah waktunya, oh para Bhikkhu, bahwa samudra besar ini akan menjadi kering, lenyap, dan tidak ada lagi. Tetapi hal itu bukan berarti akhir dari penderitaan bagi makhluk-makhluk yang digelapkan oleh Avijja (kebodohan batin) dan dibelenggu oleh Tanha (nafsu keinginan) berlari berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir. Demikianlah sabda-Ku.
Maka akan datanglah waktunya, bahwa dunia yang perkasa ini akan dilahap oleh api, musnah, dan tidak ada lagi. Tetapi hal ini bukan berarti akhir penderitaan bagi makhluk-makhluk yang digelapkan oleh Avijja dan dibelenggu oleh Tanha berlari berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir. Demikianlah sabda-Ku.
A.X.208
Tidak mungkinlah, oh para Bhikkhu, bahwa kamma (perbuatan) yang dikehendaki, dilaksanakan, dan ditimbun akan berhenti, selama orang itu masih belum mengalami akibatnya, baik di kehidupan ini, di kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang.
Dan tak mungkinlah, sabda-Ku, bahwa sebelum mengalami sendiri akibat dari kamma yang dikehendaki, dilaksanakan, dan ditimbun orang dapat mengakhiri penderitaan.